Cerpen "The Miracle 4 D Class"

The Miracle 4 D Class

Identitas Buku :
Judul Buku            : The Miracle 4 D Class
Pengarang Buku   : Rizky Johan S,Pd and Class  4 D
. Penerbit Buku       : -
Kota Terbit            : Sidoarjo
Tahun Terbit         : 2018
Tebal Buku           : 82 halaman
Jenis                     : Buku Non Fiksi


Kata Pengantar
Bismillahirrahmannirohim....
          Alhamdulillah. Sujud syukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt karena memberikan akal serta badan yang sehat. Shalawat serta salam teruntuk Nabi Besar Muhammad Saw.
          Dengan semangat serta rasa percaya diri, akhirnya cerita yang dinanti telah terbit. Berkat dorongan moral dari beberapa pihak dan keseriusan murid-murid Kelas 4 D, cerita dengan judul, ‘The Miracle 4 D Class,’ telah rampung dan siap dibaca oleh semua kalangan.
          Terima kasih atas segala pihak yang membantu menyelesaikan karya ini agar lebih baik lagi. Cerita ini diambil dari kisah nyata atas dasar petualangan anak-anak selama beraktifitas di Sekolah.


                                                                                                                          Sidoarjo,06 Juni 2018



                                                                                                                         Rizky Johan S, Pd
   


Ucapan Terima Kasih

Allah Swt atas segala rahmat dan karunia yang sungguh luar biasa karena memberikan akal dan badan yang sehat.
Kepala Sekolah SD Mumtaz 1-2 Pak Anas Fikri dan Pak Rahadian Arif karena beliau memberikanku kesempatan mengajar di kelas 4 D.
Waka Kurikulum Bu Eli dan teman-teman Tim Penulis Sekolah (Bu Heni dan Bu Elya) yang memotivasiku membuat cerita ini.
Bu Tika dan Mas Ivan sebagai Editing.
Ustad Dedy Sang Pencerah.
Para Semut Merah kelas 4 D sehingga cerita ini terbuat.
Walimurid yang mempercayakan anak-anaknya kepadaku.
Pak Sunu dan Mas Budi Tim Pelaksana.
Adikku Windy yang membantu mendesain Cover.
Terakhir Anisaus Sa’adah (istri) sebagai Finishing Cerita.

Daftar Isi
I.        Identitas Buku..................................... 1
II.       Kata Pengantar................................... 2
III.      Ucapan Terima Kasih.......................... 3
IV.      Daftar Isi ............................................. 4
V.       Sinopsis  ............................................. 5
Sang Surya....................................... 15
Para Nahkoda................................... 21
Isak Tangis Harapan......................... 25
The Miracle 4 D Class....................... 30
Petualangan 3 Sahabat di Sekolah..  33
Is The Best 4 D...................................37
Saksi Bisu Si Lampu Merah.............. 45
Ggguubrraaakkk............................... 51
Masa Kecilku..................................... 55
Guruku Bukanlah Guruku Lagi.......... 62
Fenomena Keseharianku................ ..67
Ku titipkan Sebuah Impian................ 74





Sinopsis The Miracle 4 D Class
Beberapa bulan berikutnya....
            Apa yang aku kerjakan selama ini tidak luput atas dasar motifasi sahabatku tersebut. Berbagai jutsu yang aku pelajari mulai mengena di hati semua murid. Kulihat perubahan demi perubahan dari mereka menunjukkan dirinya.
            Semua nampak berbeda dengan awal pertama kali aku masuk di kelas ini. Semangat belajar, semangat ingin tahu, semangat bekerjasama, semangat berkelompok tanpa memandang siapapun dan semangat-semangat yang lainnya mulai terpancar dari wajah-wajah Sang Surya tersebut. Kini hampir 1 semester kebersamaanku bersama mereka. Aku berpedoman:
#Jika ingin merubah sesuatu dari mereka rubahlah dirimu menjadi sesuatu yang patut untuk di tiru mereka.
I hope the miracle 4 D class.
Di buku ini pembaca akan menikmati rangkaian cerita dari kehidupan nyata dari para penulis.
Di bagian pertama buku, penulis menjelaskan tentang pengalaman pertama bekerja nya di salah satu sekolah terbaik yaitu SD Mumtaz . Pada bagian ini juga dijelaskan mengenai perkenalan penulis dengan dengan murid-murid. Penulis menganggap bahwa takdir lah yang mengantarkannya untuk dia mengabdi kepada Negara melalui Pendidikan.
Di bagian kedua, penulis menceritakan pengalaman nya yang menarik saat melihat orang tua nya debat gara-gara sinetron. Pada bagian ini penulis mengingat kembali sebuah cerita yang menarik. Semua dibahas dengan fragmen-fragmen yang nyata dari perjuangan mengikuti sebuah lomba di Sekolah bersama dengan para nahkoda.
Bagian ketiga, penulis mengajak kita untuk menyaksikan kejailan nya kepada muridnya. Penulis memiliki ide untuk memperlihatkan sebuah video yang menyentuh hati agar melihat muridnya bisa menangis.
Pada bagian ke empat, penulis menjelaskan pengaruh besar seorang sahabat yang memotivasi nya. Pada saat itu rasa lelah yang menyelimuti dirinya kini kembali bergairah karena ucapan sahabat tersebut.
Bagian ke lima, penulis menceritakan pengalaman 3 sahabat yang menarik saat di Sekolah. Berawal dari satu anak yang di kageti dan pada akhirnya mereka semua lari ketakutan karena melihat ruang kosong bekas kamar mandi yang sudah tidak terpakai.
Bagian ke enam, penulis bercerita tentang indahnya arti sebuah keluarga. Penulis selalu bersyukur karena memiliki sebuah keluarga yang mencintai nya. Di akhir penulisannya, penulis merasa deg-deg an atas hasil keputusan juri. Setelah menunggu, hasil tersebut begitu menyenangkan.
Pada bagian ke tujuh, penulis menjelaskan betapa gagah dirinya tersebut. Penulis selalu bangga akan diri nya sendiri. Ketika berangkat ke Sekolah, penulis bertemu dengan guru nya di persimpangan rambu lalu lintas.
Bagian ke delapan, penulis bercerita tentang pengalaman pribadi nya dari masa Sekolahnya. Penulis menceritakan tentang seorang teman yang menurutnya sangat lucu karena sering kali terjatuh dan terjatuh.
Bagian ke sembilan, penulis bercerita tentang masa kecilnya. Penulis mengajak pembaca untuk mengingat masa kecil nya saat belajar mengendarai sepeda roda 4.
Bagian ke sepuluh, penulis menceritakan tentang rasa sesalnya selama bersekolah. Penulis menyesal telah membuat guru kelas nya marah saat mengajar. Setelah penulis bertemu dengan guru yang baru, kini penulis tersadar dan pada akhirnya dia berpikir bahwa guruku bukanlah guru kelas ku lagi.
Bagian ke sebelas, penulis menceritakan pengalaman yang menarik bersama orang tua, guru, dan teman nya. Pengalaman menarik pun menantinya di depan sana tetapi penulis akan tetap percaya dan selalu semangat mengahadapi permasalahan-permasalahan tersebut.
Pada akhir pembahasan, penulis menyempatkan waktu nya untuk bersandar di dalam kelas 4 D. Penulis membayangkan hening nya kelas tersebut lalu penulis mengingat kembali pengalaman nya selama mengajar di kelas tersebut. Penulis membayangkan sebuah impian murid-muridnya dan tak luput penulis membagi kabar yang membahagiakan tentang istri nya yang sedang mengandung. Akhirnya penulis mengambil sebuah kesimpulan dari apa yang sudah penulis bahas. Bahwa perjuangan nya masih panjang dan dia tetap menjadi panutan bagi generasi selanjutnya dan untuk membantu mereka.
Beberapa unsur intrinsik yang terdapat pada Cerita The Miracle 4 D Class adalah :
Tema
Cerita The Miracle 4 D Class mempunyai tema utama Pendidikan. Namun uniknya tema pendidikan ini dikombinasikan dengan kisah persahabatan yang erat antara antara orang tua, guru, dan anggota semut merah.
Penokohan
Berikut adalah penjelasan penokohan dalam Cerita l The Miracle 4 D Class:
1. Rizky Johan
Johan  di dalam cerita ini berperan sebagai guru kelas 4 D.
2. Nesa
Nesa adalah seorang yang sabar dan suka sedih kalau melihat cerita yang sedih. Ia sempat lari ketakutan saat di kageti oleh teman nya.
3. Faiz
Faiz termasuk salah satu murid yang pintar di sekolah, tapi kurang sabaran jika menghadapi sesuatu yang membuat dirinya merasa jenuh. Dia agak kurang sabaran dalam menghadapi sesuatu.
4. Shelie
Shelie adalah salah satu murid yang perasa, Ia juga mempunyai sifat yang begitu polos dan selalu mempercayai apa yang dikatakan oleh Faiz. Tetapi ia selalu ceria menghadapi dunia nya.
5. Zakiya
Zakiya memiliki bakat yang menarik, salah satu nya ia suka membuat sebuah cerita. Gara-gara ia seluruh kelas 4 D aku beri julukan Semut Merah. Ia murah senyum dan sangat aktif.


6. Afif
Afif adalah anak yang percaya diri. Ia lalui hari-harinya dengan berkaca dan membetulkan rambutnya. Setiap pagi ia berangkat sekolah diantar oleh Ibu nya meski kadang-kadang diantar kakak nya.
7. Fauz
Fauz adalah sosok laki-laki yang paling suka mengawasi teman-temannya. Jika ada hal yang unik, ia pasti segera menceritakan ke orang tua nya. Ia memiliki cita-cita yang luar biasa yaitu menjadi astronot.
8. Ezzy
Ezzy merupakan anak masa kini. Apapun yang ada di youtube segera dia uptodate. Tetapi ia begitu perasa jadi setiap kejadian selalu di ambil hati.
9. Vardhan
Vardhan merupakan anak yang slowly. Meski kadang guru memarahi nya dia cukup berikan senyuman tipisnya. Ia adalah orang yang tampan, kreatif, dan imajinatif.
10. Ade
Ade adalah anak yang penurut dan mematuhi perintah orang tua. Apapun akan dilakukan supaya orang tua nya bahagia. Kadang rasa lelahnya tidak di rasa dan tetap menjalani fenomena kesehariannya.
11. Rafie
Rafie adalah sahabat dari Rizky Johan. Ia memberikan motivasi yang sangat bagus meski kalimatnya diambil dari serial kartun TV.
12. Dhika
Dhika salah satu murid SD Mumtaz. Ia masuk dalam cerita tersebut dalam cerita Ggubrakkk. Tingkahnya yang lucu menjadi inspirasi Fauz dalam membuat cerita.
Alur
Alur yang digunakan dalam Cerita The Miracle 4 D Class adalah alur maju mundur tetapi ada pula di salah satu cerita memakai alur mundur saja. Tergantung pembaca yang menilainya.
Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerita ini adalah jangan pernah menyerah dan selalu berusaha yang terbaik. Yakin dan percaya bahwa kita dapat dipercayai oleh orang lain.


Kelebihan dan Kekurangan Cerita The Miracle 4 D Class
Kelebihan : Banyak sekali karakter yang bisa kita jadikan teladan. Memberikan pelajaran moral yang baik dan mengajari arti dari sebuah keluarga. Banyak berbagai masalah yang di suguhkan.
Kekurangan : Banyak nya pembuat karangan sehingga isi Cerita tersebut terlihat rancu dan tidak memiliki arah dan tujuan hingga akhir cerita.
Kesimpulan
Cerita The Miracle 4 D Class ini sangat bagus sekali bagi para pelajar yang suka membaca buku. Sedikit mengenang masa-masa SD yang tentunya itu sangat menyenangkan. Di suguhkan karya-karya dari pemikiran yang nyata oleh para penulis. Tentunya dari setiap karangan akan muncul judul-judul baru sehingga pembaca akan menemukan hal-hal menarik.





Kelebihan Buku
Buku ini sangat memotivasi bagi siapa saja yang membacanya. Ketika kamu membaca buku ini, ekspresi wajah kamu pasti akan senyum-senyum sendiri. Selain itu, buku ini memiliki ilustrasi-ilustrasi cerita pengalaman seseorang yang mampu menarik perhatian pembaca yang akan menambah citra buku ini.
Kekurangan Buku
Kurangnya ilustrasi dalam buku ini akan menjenuhkan para pembaca, khususnya bagi orang-orang yang tidak suka membaca.






Sang Surya
            Perkenalkan aku adalah Rizky Johan. Baru-baru ini aku berkecimpung di dunia pendidikan, yaitu salah satu Sekolah favorite multy talent School of Mumtaz di daerah Taman Sepanjang sebagai pengajar. Profesionalisme adalah hal wajar yang harus ku miliki. Sama seperti harapan semua pengajar bahwa mereka dapat menyampaikan ilmu kepada muridnya, berjalan lancar dan tentunya mendapat barokah dari Allah SWT.
             Pagi hari di ruang guru. Waktu masih menunjukkan pukul 06.25, semua terasa sunyi dan hanya terdapat satu orang yang sedang membuka laptopnya. Hal yang aku ketahui tentang guru ini adalah beliau berkacamata dan perutnya sedikit agak tambun tapi sangat gagah karena merupakan guru paling disilpin dan rendah hati.
            “Assalamualaikum,” sapaku dengan senyum
            “Wa’alaikumsalam.” Sahut Pak David
            “Sedang apa Pak?” lanjutku
            “Ini loh Pak lagi lihat tausiah islam”
            Setelah itu aku duduk di tempat kerjaku, sepintas aku membayangkan begitu nyaman berada disini. Bukan karena upah yang besar, tak dapat dipungkiri pekerjaan mentereng dengan pendapatan selangit adalah keinginan rata-rata banyak orang. Namun, tak sedikit pula yang memilih suatu pekerjaan bukan karena materi, melainkan panggilan untuk mengabdi. Salah satu profesi yang dilandasi pengabdian itu adalah menjadi guru. Selain mengabdi kepada negara Indonesia, aku berada tepat di lingkungan yang di penuhi oleh orang-orang yang seiman. Sangatlah indah dan ahh.. aku bingung mau berbicara apa. Tetapi yang aku percayai, takdir lah yang mengantarkanku ketempat ini dan aku sangat percaya ini yang terbaik.
            “Assalamualaikum Pak Johan” kata Bu Zia
Seketika itu aku tersadar dari lamunanku dan berkata, “oh iya Wa’alaikumsalam.”
            “Pak Johan ngelamunin apa?”
            “Tidak ada bu.” Ucapku
Lantas beliau berkata,”Pak Johan mengajar di kelas 4 D ya? Selamat ya pak, mereka super semua.” Sambung beliau sambil tertawa.
            Bukan karena alasan, karena beliau adalah walikelas mereka saat kelas 3 dulunya. Pasti mereka sangat istimewa atau jangan-jangan mereka memiliki bakat yang luar biasa. Seketika itu diriku sedikit nervous dan sedikit gemetar karena mengajar anak-anak super.
#Tidak sabar masuk kelas di hari pertama
            Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, setelah briefing aku bergegas menuju kelas 4 D. Beberapa guru memberikan senyuman manis terhadapku. Sungguh disini tempat yang sangat nyaman. Ketika aku berjalan menaiki anak tangga, kulihat ada satu anak yang sedang mengintip dari atas tangga. Tanpa pikir panjang kuberikan senyuman padanya tetapi dia malah lari meninggalkanku.
#Sedih euy (‘_’)
            “Selamat pagi anak-anak” sapaku
            Suara yang gaduh mendadak langsung sunyi ketika kuberi salam, aku lihat terdapat anak laki-laki yang sedang mengintip dari atas anak tangga tadi.
            “Pak kalau masuk ketuk pintu dulu” kata salah satu murid, “jangan lupa ucapkan Assalamualaikum” lanjutnya.
            “Tuhkan anak kelas ini pasti super .” batinku
            Pagi ini pasti mereka bertanya-tanya siapa diriku ini, aku sangat tidak sabar menjawab pertanyaan dari mereka dan pastinya sangat seru bisa berkenalan dengan mereka semua.
            “Maaf ya, baik bapak ulangi kalau begitu.”
            “Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak”
            “Waalaikumsalam.” Sahut mereka bersama-sama
            “Siapa bapak? Guru kelas kita dimana pak?” sambung salah satu murid lainnya.
            “Perkenalkan, nama bapak Rizky Johan, bapak adalah wali kelas kalian.” Kataku sambil tersenyum, “salam kenal”
Sontak mereka kaget dan hanya berkata satu hal, “Hhhahhhh????!!!” sambil histeris
            #Krik....krik....krik.... sunyi.
            “Tidak sesuai harapan. Namun kedatanganku disambut histeris itu sudah dibilang cukup.” batinku (membela diri)
            “Baik anak-anak sebelum pembelajaran kita mulai, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu” kataku.
            “Biasanya kalau doa ketua kelas yang maju kedepan untuk memimpin doa” sahut salah satu anak dengan tegas
            “Nama kamu siapa?” Tanyaku
Dengan nada lirih anak tersebut menjawab, “Tiara Pak.”
Kemudian aku berkata,”Terima kasih ya Tiara sudah diberitahu.”
            “Sama-sama Pak.” Sambung Tiara dengan senyuman manis.
            Pada saat itu aku hanya bisa tertegun, mereka ini adalah generasi Sang Surya yang mengedepankan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi besar kita Muhammad SAW. Sungguh besar harapanku bisa membimbing mereka dan menjadikanku sebagai keluarga untuk mereka.
            Oh ya sekedar informasi, anak yang mengintip di atas anak tangga tersebut bernama Hoirul. Dia anak yang ceria dan sangat aktif dalam ijin ke toilet. Aku sangat menyukai anak-anak seperti dia, karena setiap pagi dia selalu menungguku di anak tangga. Sungguh perbuatan yang mulia.





Para Nahkoda
            Malam itu aku dan keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Seperti biasa kami sedang menonton acara TV yang menurutku sudah tidak asing lagi. Yaitu film sinetron kesukaan ibu. Sebetulnya ayah paling anti dengan film sinetron, bukan karena alasan karena alur cerita sinetron itu terlalu dibuat-buat.
Ayah berkata, “Ceritanya mesti begitu-gitu saja.”
            “Namanya juga sinetron, haarap maklum.” Jawab ibu dengan santai
            “Tuhkan, sudah tahu dijahati bukan dilaporin saja ke polisi.” Lanjut ayah
            “Dia kasihan tahu makanya jadi peran baik.” Sambung ibu
            “Ngapain dibaikin orangnya sudah keterlaluan begitu?”
            “Di ingat lagi, ini sinetron loh.” Jawab ibu.
Ayah makin kesal dan berkata, “Kalau aku jadi dia sudah aku laporkan ke polisi.”
Dengan santai ibu menjawab, “Berarti peran kamu jadi orang jahat pantes.”
Hening lama....
            Sebetulnya aku heran sama ayah dan ibu. Seakan-akan mereka berdua mendramatisi setiap kejadiannya dan memiliki sudut pandang masing-masing. Saat itu aku berasa melihat sinetron secara live.
            Jika dipikir-pikir kejadian ini sama persis dengan apa yang aku alami. Mereka para semut merah. Terkadang jika ada Kepala Sekolah maupun Pengawas lewat di depan kelas, mereka yang awalnya ramai mendadak langsung diam dan langsung fokus dengan apa yang aku sampaikan.
            Kalian ingin mengetahui kenapa mereka dapat diam sejenak seperti itu? Hal ini tidak luput dari peran seorang Walikelas nya yang selalu aktif menghimbau untuk bermain peran dalam hal kebaikan bersama.
            “Ingat anak-anak ketika ada Bapak Kepala Sekolah maupun Pengawas lewat kalian harus apa?” Tanyaku
            Serentak menjawab, “Diam.. Fokus.. dan Bertanya.”
#HAHAHA..
            Setidaknya dengan cara ini aku mengajarkan mereka makna pentingnya bekerjasama karena sesuai dengan pengamalan pancasila yaitu Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan...
            Jika membahas mengenai kerjasama aku teringat ketika di Sekolah mengadakan lomba Tumpeng. Sempat khawatir ketika mendapat informasi bahwa Walikelasnya juga harus ikut serta. Akan tetapi rasa khawatir dan cemas pun hilang ketika seluruh Walisiswa sangat antusias dalam kegiatan lomba tersebut.
            Di ibaratkan sebuah kapal. Berkat  tangan sang Nahkoda Ibunda dari Chaca dan Nesa jadilah Hiasan Taman Nasi Tumpeng tersebut mendapatkan juara ke -1. Sedangkan anak kapal nya adalah perwakilan semut merah Chaca dan Nesa yang terlihat cantik dengan desain baju yang seragam.
            Tetapi hasil tersebut tak luput dari Peran Nahkoda lainnya Ibunda nya Rafie, Shelie, Tiara, Dea, Daffa, Keyla, Fauz, dan Walisiswa yang lain yang tak pernah lelah dan habis-habisnya memberikan Support kepada kami. Sedangkan aku sendiri hanya bisa mengucurkan keringat  dan sok sibuk ketika juri sedang mampir ke kapal kami.
#Miris
            Pengalaman ku dengan Koloni Para Nahkoda ini sangatlah berkesan. Mungkin inilah cerita terbaik selama kedekatanku dengan beliau. Beliau semua adalah Para Nahkoda yang mau menyisihkan waktunya demi satu tujuan yaitu pengorbanan seorang Ibu untuk keceriaan anak-anaknya.





Isak Tangis Harapan
                Pagi ini aku memulai pembelajaran dengan penuh semangat. Kusiapkan laptop dengan tisue lalu kubawa keatas kelas. Setibanya, aku meminta Chaca untuk memimpin doa sebelum pembelajaran dimulai.
                “Chaca tolong dipimpin doa.”
Chaca menjawab, “Iya Pak.”
                Ketika itu kulihat sekeliling wajah-wajah sayu dari beberapa murid. “Mungkin karena mereka masih ngantuk” batinku. Ditambah lagi hari ini adalah hari senin, setelah mereka libur 2 hari sebelumnya. Adapula yang tersenyum ceria untuk memulai pembelajaran kali ini. Namanya Faiz.
                Ketika Chaca selesai memimpin doa tak luput aku ucapkan terima kasih kepadanya. Setelah itu aku mendatangi tempat duduk Faiz yang ketika itu duduk dengan Shelie.
                “Faiz ceria amat hari ini.” Kataku
Lalu Faiz tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa Pak.”
                “Kamu senang ya kalau ketemu sama Pak Johan?” Tanyaku menghibur hati.
                Belum sempat dijawab oleh Faiz, tiba-tiba dari arah samping terdengar sebuah teriakan dari 2 orang murid. “Pak Johan GE-ER deh” Sambil tertawa riang.
                “Aku mendengar teriakan tersebut berasa tidak asing ditelingaku”, ketika ku menoleh, “ternyata betul yang berteriak tadi adalah si Zakiya dan Icha.” Batinku
                Kulihat masa depan yang cerah dari senyuman-senyuman tersebut.
                Sedikit membahas tentang Zakiya dan Icha. Mereka berdua adalah inspirasiku dalam menamakan murid Kelas 4 D adalah Para Semut Merah. Mereka berdua paling aktif dan paling ceria. Aku senang bisa mendapatkan murid seperti mereka.
                “Baik anak-anak, kalian siap memulai pembelajaran pagi ini!!” Kataku dengan tegas
                “Tidak pak,” Serempak
#Masa laluku terulang kembali
                “Pak Johan mau setel-kan video loh.” Rayuku
Dengan senyum ceria dan semangat yang tinggi mereka langsung menjawab,”iya Pak mau.”
#KIDS jaman NOW
                Ketika itu aku memperlihatkan sebuah video tentang tausiah dengan judul Pengorbanan seorang ibu dan ayah. Kulihat mereka semua fokus menghadap layar video. Menit demi menit berlalu kulihat mata mereka mulai berkaca-kaca. Timbul lah keisenganku untuk mengerjai mereka.
                Ku putarkan sebuah video pengorbanan seorang ayah yang membanting tulang untuk memberikan hadiah kepada anaknya yang sedang ulang tahun tanpa anaknya ketahui. Kulihat lagi mereka semakin berkaca-kaca bahkan adapula yang mulai menangis tersedu.
                Dan untuk berikutnya aku persembahkan video terakhir tentang bangganya seorang ibu terhadap anaknya meski hati ibu nya telah di sakiti. Kulihat sebagian sudah mulai meneteskan air mata
                Isak tangis didalam kelas mulai pecah ketika aku tutup pembicaraan dengan memberikan motivasi kepada mereka semua tentang pengorbanan para orang tua untuk anaknya ditambah dengan aku setelkan lagu, “BUNDA”.
                Kulihat hampir seluruh murid menangis dengan apa yang aku sampaikan. Lantas keisenganku tersebut berubah menjadi rasa bangga dan terharu. Sebagian dari mereka ada yang berkata, “Setibanya dari rumah aku meminta maaf ke orang tua. Adapula yang berkata terima kasih Pak sudah mengingatkan kami”
                Tak terasa bel pun berbunyi. Sebagian anak-anak meminta ijin untuk pergi ke toilet karena ingin membasuh mukanya. Sungguh pembelajaran yang menarik. Setidaknya mereka teringat atas pengorbanan kedua orang tua untuk putra dan putrinya.
                Akhirnya sebagai penutup pembelajaran aku memberikan tugas kepada mereka untuk membuat kartu ucapan minta maaf kepada orang tua.
                “Baik anak-anak yang ingin tisue, ini bapak ada.” Sambil berkata, “1 Tisue 500 saja.”
                “Aku berdoa agar isak tangis ini adalah impian yang besar untuk mereka meraih masa depan yang gemerlap dan selalu patuh kpeada orang tuanya.” Batinku
             
The Miracle 4 D Class
            Sore hari di warung pojok dekat rumah sahabat..
            Aku: Sebetulnya aku menginginkan yang terbaik untuk mereka. Akan tetapi apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan harapan. Kadang aku sudah membuat planing yang baik, tetapi setibanya masuk di kelas rasa – rasanya planing itu lenyap sebegitu saja karena keramaian mereka.
            Rafi: Lantas apakah kamu akan menyalahkan mereka? Ingat mereka hanyalah anak kecil yang perlu diarahkan.
            Saat itu suasana sedikit hening, baik aku atau Rafi hanya meminum kopi masing – masing. Beberapa menit kemudian Rafi melanjutkan pembicaraannya.
            Rafi: Peran seorang guru luar biasa besar bagi masa depan anak – anak bangsa. Guru menjadi ujung dalam mencerdaskan karena mereka mentransfer ilmu. Tapi apakah kamu tahu seorang guru juga harus mengarahkan nilai – nilai yang positif ke anak?
            Aku: Maksud kamu apa fi? Maaf aku kurang paham dengan pembicaraanmu.
            Sambil menyeduh kopinya Rafi berkata, “Mereka bukan hanya mendidik anak sehingga anak menjadi pintar, melainkan menjadikan anak dengan pribadi yang berkarakter!
            Aku: Lantas apa yang harus aku perbuat untuk mereka?
            Rafi: Jalan hidup seorang murid adalah warisan dan estimasi dari sang guru.
            Aku: itu kan kata – kata Jiraiya sensei di film Naruto
            “Tidak apa – apa biar kelihatan cool,” kata Rafi sambil tertawa, “kamu pikir sendiri karena kamu adalah guru bagi mereka.” Sambungnya
            Aku: terima kasih sob atas nasihatnya, aku akan melakukan itu.
            Kata Rafi,“ingat kamu bukanlah Allah, yang apa kamu inginkan akan terwujud. Semua butuh proses yang panjang dan kamu baru memulainya.”
            Beberapa bulan berikutnya....
            Apa yang aku kerjakan selama ini tidak luput atas dasar motifasi sahabatku tersebut. Berbagai jutsu yang aku pelajari mulai mengena di hati semua murid. Kulihat perubahan demi perubahan dari mereka menunjukkan dirinya.
            Semua nampak berbeda dengan awal pertama kali aku masuk di kelas ini. Semangat belajar, semangat ingin tahu, semangat bekerjasama, semangat berkelompok tanpa memandang siapapun dan semangat-semangat yang lainnya mulai terpancar dari wajah-wajah Sang Surya tersebut. Kini hampir 1 semester kebersamaanku bersama mereka. Aku berpedoman:
#Jika ingin merubah sesuatu dari mereka rubahlah dirimu menjadi sesuatu yang patut untuk di tiru mereka.
I hope the miracle 4 D class.


Petualangan 3 sahabat di sekolah
(by Nesa, Faiz, & Shelie)
            Pada suatu hari aku, Faiz dan Shelie bertualang di kelas 5 dan 6. Setibanya di lorong kelas 5, aku berjalan  terus dan aku melihat kamar mandi yang sudah tidak di pakai. Tempatnya kotor dan sangat menyeramkan, tiba-tiba temanku Shelie  membuat kaget. Lantas kami bertigapun langsung berlari ketakutan menuju kelas.
            Ketika itu bel masuk kelas pun berbunyi. Kami bertiga menunggu Pak Johan di dalam kelas sambil mengobrol bersama. Pak Johan pun datang sambil membawa laptop di tangannya. Salah satu dari temanku yang bernama Zakiya bertanya kepada Shelie,
            “Kenapa Pak Johan membawa laptop?”
            “Aku tidak tahu.” Jawab Shelie sambil mengangkat bahunya.

28
            Setelah itu, Pak Johan pun memperlihatkan film yang sangat menyedihkan tentang seorang guru yang tidak diperlakukan baik oleh muridnya. Setelah melihat film itu sebagian dari kami menangis. Untung Pak Johan sedia tisu sebelumnya jadi kami bisa mengusap air mata dengan tisu pemberian beliau.
            Ketika bel istirahat kedua berbunyi, kami pun menuju ke Aula untuk shalat berjamaah. Sehabis shalat berjamaah kami pun istirahat untuk membeli snack di kantin dan koperasi kemudian kami bertiga pun memakannya di dalam kelas.
            Saat itu bel masuk pun berbunyi, aku dan kedua sahabatku memakai sepatu dan menunggu kedatangan Bu Chosi’. Beliau pun datang dan memulai pelajaran ibadah hingga bel pulang berbunyi.
            Pada saat bel pulang berbunyi, Bu Chosi’ mengucapkan salam dan mengakhiri pelajaran. Setelah Bu Chosi’ keluar kelas, Faiz beteriak “yeeeey..... pulang pulang pulang ...”
            “belum iz kan ada HW” kataku
             “iya iya aku tahu.” Jawab Faiz.
            Sebelum HW dimulai kami bertiga kebawah untuk membeli snack. Setelah membelinya kami melihat kakak pembina HW berjalan ke atas, kamipun langsug berlari sekencang mungkin menuju kelas.
            Setelah itu kami belajar tentang sandi angka. Setelah itu kamipun pulang karena sudah pukul 03.30 sore. Kami dijemput oleh orang tua masing masing.
            Beberapa hari kemudian aku tidak sengaja mendengar Zakiya dan temannya berbicara tentang ulang tahun Pak Johan dan mulai mengumumkan bahwa satu kelas harus iuran untuk membeli kue dan hadiah untuk Pak Johan.
            Beberapa hari kemudian setelah uang terkumpul mereka membeli persiapannya. Senin kemudian kami memberikan pak Johan sebuah surprise. Akhirnya aku dan teman sekelas makan kue bersama dan tentunya itu sangat seru sekali.
            Setelah makan kue kami melihat film sedih kembali hingga bel istirahat berbunyi dan melaksanakan sholat dzuhur di Aula. Setelah selesai sholat aku sedikit berpikir, kadang Pak Johan ini orangnya suka membuat anak menjadi baper kok. (“_”)
            Beberapa bulan kemudian kami menghadapi PAT mengaji saat hari kedua PAT  mengaji aku dan anak2 yang mengaji di Bu Bella dipanggil untuk remidi munaqosa .pada hari selasa aku, Faiz dan Shelie berolahraga di lapangan lalu datanglah guru olahraga yang bernama Pak Teguh.
            Kata Pak Teguh, “Ada ujian lari untuk tambahan besok PAT, lalu ada kelas 4E datang untuk bertanding bersama dengan kelask kalian.”
            Keesokan harinya tibalah acara yang ditunggu-tunggu lalu Pak Teguh memangil no absen 1-4 untuk bertanding kemudian Pak Teguh meniup peluitnya, “Prit..........’’. Lalu anak anak pun berlarian tetapi bagi kami ini hanyalah permainan dan tidak perlu ada kata pemenangnya.



Is The Best 4 D
(by Zakiya)
           
             “ Kriingggg…” jam beker berbunyi
 “Zakiyaaa....” Suara samar, “Cepat bangun.”
Kubuka jendela kamarku, sungguh cerah dan sejuk udara pagi ini. Segera ku matikan jam bekerku yang menunjukkan pukul 5 pagi.
“Zakiya sudah bangun belum?”
Ternyata itu adalah suara ibuku.
“Sudah, ini mau mandi dan sholat dulu.” Teriakku
Setelah selesai, ku langsung berlari turun dan bergegas sarapan. Tak sadar jam pun menunjukan pukul 06.30 ku langsung berpamitan kepada ibu. Tak lupa beliau mencium keningku dan mendoakanku.
“Yahhhh….. ayo berangkat” kataku dengan teriak suara ayah dari luar rumah menjawab, “sebentar kakk.”
Kulihat ayah ku sedang memanaskan kendaraannya. Aku sangat mencintai keluargaku. Baik ayah maupun ibu mereka berdua sangat mempedulikanku. Aku bersyukur memiliki kedua orang tua seperti ini dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk beliau berdua.
Setelah itu berangkatlah aku dengan ayah menuju kesekolah. Pada saat dijalan aku bergembira dengan ayah dan saling bercerita. Sesampainya di sekolah tak luput aku mencium tangan ayahku berharap mendapat ridho darinya.
 Terlihat beberapa guru yang sedang menyambut di depan gerbang sekolah, lalu ku mulai berjalan cepat menaiki 6 anak tangga, setelah sampai diatas.
Heuuffffhh… “keluhku kelelahan” ketika membuka pintu dan memasuki pintu.
 “Zakiyaaa.” Suara Chaca yang menyapa ku dari dalam kelas.
Ku melihat senyum ceria yang di perlihatkan olehnya. Ku lihat suasana kelas sangat ramai yang dipenuhi dengan kekacauan, lalu ku melihat Icha yang sedang berlari menujuku. Lagi-lagi kulihat senyuman yang sangat ceria. Saat itu aku pejamkan mata sejenak atas segala nikmat yang telah di berikan oleh Allah karena memberikanku kenikmatan yang sungguh luar biasa ini.
Setelah beberapa menit berlalu kriiinngg… “bel masuk pun berbunyi” lalu semua kembali ketempat masing masing dan Chaca pun memimpin doa.
Setelah selesai guru kami pun datang yang bernama pak Rizky. Beliau adalah guru Favorit kami semua. Meski beliau sering pusing dengan kami tapi beliau selalu semangat mengajar kelas yang riuh ini.
“Assalamualaikum anak-anak.” Kata Pak Rizky
Kami serentak menjawab, “waalaikumsalam”.
“Baik, Pak Rizky punya kabar baik, bahwa Sekolah kita akan mengadakan lomba tumpeng.”
“Asikkkkk....” batinku, kulihat semua bergembira karena Pak Rizky membawa kabar baik itu.
“Yeaayhh...” Teriak kami senang
“Kapan Pak???” Tanya ku
“Minggu depan cantik”“jawab Pak Rizky sambil tersenyum padaku. Beliau lalu berkata, “tapi hanya dipilih dua anak yang membuat beserta orang tua.”
“Siapa Pakk??” tanyaku tidak sabar
Kemudian Pak Johan menjawab, “berdasarkan diskusi Bapak dengan orang tua akhirnya yang dipilih yaitu Chaca dan Nesa beserta orang tua nya.
Lantas kami tidak merasa iri dengan perkataan beliau justru aku dengan teman-teman yang lain akan selalu menyemangati Chaca dan Nesa. Saat itu Pak Johan tidak memberikan kami materi pelajaran di karenakan beliau sedang bercerita tentang Aqidah Islam.
 “Krriinngg…” Bel istirahat pun berbunyi, kemudian Pak Johan menutup pembelajaran dan kami istirahat. Pada saat di Kantin Sekolah, aku beserta teman-teman membicarakan tentang lomba tumpeng itu.
Tak terasa waktu istirahat pun habis, kami pun bergegas kembali ke kelas, pelajaran berikutnya sudah bukan Pak Rizky lagi, batinku, “ah malas.”
Jam demi jam telah berlalu, ku lihat jam dinding kelas yang sudah menunjukkan pukul 12.00 kami pun bersiap untuk turun kebawah untuk sholat dzuhur berjamaah di Aula.
Setelah selesai sholat dhuhur kami pun langsung naik kembali di kelas masing-masing, lalu memulai pelajaran lagi. Saat itu pelajaran diisi oleh Pak Rizky lagi. Ku lihat suasana kelas yang sangat ramai, seperti biasa anak-anak laki bercerita tentang Mobile Legend. Mereka adalah Ezzy, Afif, Fawaz, dan Dika. Mereka sangat serius membahas game tersebut.
Kadang aku berpikir seandainya mereka seserius ini di kala pembelajaran pasti sangat menyenangkan dan Pak Rizky mungkin tidak memarahi kami karena suka ramai sendiri. Saat itu kulihat sekeliling ruangan sangat kotor, ku hanya tersenyum. Bel pulang sekolah mulai berbunyi lalu Chaca pun maju untuk memimpin doa setelah usai berdoa.
Kami pun berpamitan kepada Pak Rizky dan aku pun segera menuju gerbang sekolah lalu ku pulang bersama Dea si cantik jelita dunia akhirat. (itu sih kata Dea sendiri) dengan berjalan kaki.
Setibanya dirumah aku pun memberitahukan kabar tentang lomba tersebut kepada ibu. Setelah berbincang, aku pun naik menuju kamar untuk ganti baju kemudian aku tertidur pulas.
I minggu berikutnya......
“Hoammmm,” pagi ini mataku terasa masih ngantuk,  kulihat jam bekerku sudah menunjukan pukul 05.00. Kemudian aku segera mengambil air wudhu untuk sholat shubuh.
Setelah itu aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah dan menyaksikan lomba tumpeng itu. Pada waktu semua sudah ku siapkan, segera lah aku turun untuk sarapan.
“Ayo yahhh..” ajak ku setelah sarapan, lalu aku pun sampai di Sekolah. Kulihat di sekolah terlihat sangat ramai dan aku segera menuju kelas untuk meletakkan tasku.
Kemudian aku pun turun kembali karena lomba untuk menghias tumpeng akan segera dimulai. Lapangan Sekolah tempat untuk berlangsungnya lomba tersebut.
Terlihat sudah ramai di lapangan saat itu, aku dan teman yang tidak mengikuti lomba hanya bisa menunggu dan melihat persiapan Ibunda Chaca dan Ibunda Nesa menyiapkan perlengkapan lomba sedangkan Pak Rizky aku belum melihatnya..
Aku bersorak untuk menyemangati Chaca dan Nesa. Beberapa menit kemudia lomba segera dimulai dan ku lihat Pak Rizky yang sedang berlali menuju tempat lomba dengan membawa vas bunga. Sangat menegangkan perlombaan kali ini, upaya demi upaya di lakukan dengan cara terbaik. Semua peserta lomba sungguh sangat bersemangat.
Ku kagum dengan Ibunda nya Chaca dan Nesa dengan cara menghias tumpeng tersebut. Chaca dan Nesa pun terlihat cantik dengan pakaian bercorak yang sama. Ku melihat Pak Rizky yang tiap detik mengelap keringatnya. “Mungkin beliau Nervous.” Batinku
Setelah  waktu yang diberikan habis, tibalah penilaian yang ditunggu-tunggu. Aku bersama teman-teman selalu berdoa agar kelasku diberikan hasil yang terbaik. Kemenangan memang sangat diharapkan oleh masing-masing peserta, tetapi rasanya tidak adil jika kami berdoa untuk memenangkan dan mengalahkan peserta yang lainnya.
Kali ini pemenang lomba dibacakan oleh Pak Khafid
Juara 3 diraih olehhhh kelasss…. 4…FFF…...
Juara 2 diraih olehh… kelass… 4…..EEE…...
“Masih belum tersebut kelas kami.” Batinku
Bu Ariza berkata, “akhirnya yang dinanti-nanti pemenang pertama adalah...”
Pak Khafid berkata, “yang dinanti-nanti pengumuman juara pertama.”
Juara 1 diraih olehhhh kelasss…. 4…DDDDD…...
            “yeaahhhyy” teriak kami gembira.”
            aku tak mengira bahwa kelas ku yang menjadi juara pertama. Aku sangat mencintai kelas ini. Aku tidak akan pernah melupakannya dan tetap akan mengingatnya. Keberhasilan ini adalah milik kami bersama karena atas dasar semangat yang luar biasa.


Saksi Bisu Si Lampu Merah
(by Afif)

            Hari ini aku mengawali pagiku dengan penuh semangat. Meski sekarang adalah bulan puasa tidak kujadikan untuk bermalas-malasan. Aku pernah mendengarkan guruku bicara, “di bulan puasa ini harus tetap semangat karena malas itu temannya setan,” guruku pun menjelaskan kembali, “meski setan di belenggu akan tetapi langkahnya masih bisa menyesatkan manusia.” Sebenarnya aku masih bingung dengan penjelasan tersebut tetapi tetap guruku adalah panutanku selain orang tua di rumah.
            Sebelum berangkat ke Sekolah, kutata terlebih dahulu rambutku ini. Ku lihat di cermin sambil bergumam, “aku lah anak tampan di Kelas”. Saat itu aku hanya senyum-senyum sendiri sembari membetulkan busana muslimku. Sekarang adalah hari pertama kegiatan Pondok Ramadhan di SekoIahku.
            “Afif sudah kelar berkacanya?” tanya Ibu
            “Sebentar bu, 5 menit lagi selesai nanggung lagi ngaca.” Jawabku
            Setelah selesai memandangi diriku sendiri, lantas aku bergegas menuju depan rumah untuk memakai sepatu. Kulihat sepatuku yang terlihat kotor, tanpa di perintah Ibu, aku pun langsung mengelapnya agar terlihat kinclong.
            “Sudah Afif tidak ada yang tertinggal?” tanya Ibu
            “Semoga saja tidak ada yang tertinggal bu.” Jawabku
            Kami pun langsung berangkat. Sebetulnya aku sedikit ngantuk kalau yang menyetir Ibu, bagaimana tidak Ibu sangat pelan-pelan sekali kalau berkendaraan. Aku berpikir, seandainya yang menyetir adalah aku pasti lain lagi. Tapi aku urungkan untuk melakukan hal tersebut dikarenakan aku masih agak trauma setelah jatuh dari Sepeda ontelku.
            Di sela-sela perjalanan ku hanya melihat kendaraan yang menyalip motor kami. Saat itu aku tidak terlalu mempedulikan, jadi meski pelan yang penting selamat sampai tujuan. Ibu ku memang terbaik pokoknya, beliau selalu mengantarku berangkat untuk Sekolah.
            Di tengah-tengah perjalanan, ku lihat lampu rambu lalu lintas bewarna merah. Menandakan kendaraan semua harus berhenti. Ku lihat sebelah kiriku adalah persimpangan jalan di Kletek Taman Sidoarjo. Ketika ku terdiam, tiba-tiba terdengar suara bisikan seseorang. Tapi aku tetap diam saja waktu itu dan tidak terlalu memikirkan itu, lama kelamaan suara itu seperti tidak asing lagi bagi telingaku.
            “Pip.. apip..”
            “Apipp..” Semakin keras.
            Ketika ku menoleh ke kanan, aku langsung senyum-senyum sendiri. Ternyata suara bisikan tersebut berasal dari suara Pak Johan. Beliau adalah Wali Kelasku saat ini. Lalu beliau berkata, “kamu mau bareng sama Pak Johan?”
            “Gimana Fif?” tanya Ibu
            Saat itu aku hanya diam dan tetap senyum-senyum sendiri. Kemudian Ibu pun menanyaiku kembali. “bagaimana Afif bareng sama Pak Johan ya?” pinta Ibu kepadaku.
            Dengan ijin Ibu aku langsung mengiyakan perkataan Pak Johan untuk berangkat ke Sekolah dengan beliau. Saat lampu masih bewarna merah aku bergegas turun dari motor dan segera menaiki motornya Pak Johan.
            Setelahnya itu, lampu rambu lalu lintas kembali bewarna hijau, kini aku berangkatnya di antar langsung oleh guruku. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu guruku di lampu merah tersebut. Ketika di tengah jalan guruku berkata, “bagaimana Apip puasamu?”
Aku menjawab, “alhamdulillah masih full Pak.” Kemudian aku bertanya, “Pak Johan puasa tidak hari ini?”
            “Rahasia Pip.” Jawab guruku
            Dalam hati aku berkata, “guruku yang satu ini memang misterius sekali.”
            “Pip pegangan ya.”
            “Kenapa Pak?” tanyaku
            “Pak Johan mau nyalip becak.”
            Pada saat itu kami bercanda bersama. Meski guruku menaiki motornya agak cepat sedikit, tapi aku merasa aman dengan beliau. Tanpa terasa kami pun tiba di Sekolah dengan selamat. Setelah turun dari motor guruku, aku langsung mencium tangan beliau sebagai tanda ucapan terima kasihku. Ku lihat guruku mulai memarkirkan motornya dan aku bergegas menuju kelas. “Ini adalah pengalaman yang menyenangkan bersama guruku.” Batinku.
            Ketika aku berada di luar kelas, ku dengar suara-suara yang gaduh dari dalam kelas. Hal ini tidak mengherankan bagiku karena aku sendiri setibanya di Kelas kadang masih suka bercerita bersama teman-teman. Ku lihat jam menunjukkan pukul 7 pagi, kulihat Ezzy baru datang masuk kelas dengan wajah yang lesu. Aku bertanya kepadanya, “kenapa mamen kok lesu?”
            “Namanya lagi puasa jadi lemes Fif.” Jawab Ezzy
            Saat itu aku hanya tersenyum saja melihatnya. Lalu dari balik pintu kelas, guruku masuk dan mengucapkan salam lalu menanyakan kabar anak-anak pagi ini. Kemudian guruku mulai bertanya, “siapa hari ini yang paling telat?”. Jawaban anak-anak semua sama yaitu menyebut nama Ezzy. Akhirnya besok Ezzy diminta guruku untuk bertausiah di pagi hari.

Ggguubrraaakkk !!
(by Fauz)

            Ggguubrraaakk !!
            Suara keras itu berasal dari bangku paling depan. Awalnya aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat seluruh teman tertawa sekeras-kerasnya. Lantas aku bertanya ke Aldo teman sebelahku, “kenapa Do semua tertawa?”
            “Kamu tidak lihat si Dhika jatuh dari kursinya.” Jawab Aldo tertawa
            Ketika itu aku melihat Dhika yang sedang tertawa juga menutupi rasa malunya. Tiba-tiba suara yang ramai itu di hentikan oleh Pak Johan guru kelasku.
            “Tolong yang lain diam.” Kata Pak Johan, sambil berjalan ke arah Dhika dan berkata, “Pak Johan kan sering berkata jangan mengangkat kursi seperti itu, nanti kamu bisa jatuh.”
            “Maaf Pak.” Jawab Dhika dengan lemas.
            Pak Johan pun bertanya ke seluruh anak, “kalian masih ingatkan pesan Pak Johan. Jangan mengangkat kursi dan mengayunkan ke belakang. Kalau terbalik ke belakang bisa membahayakan kepala kalian.” Nada marah
            Memang Pak Johan sering mengingatkan kita satu kelas. Kejadian seperti ini memang sering terjadi di kelasku. Tapi anak-anak tidak patuh dengan perkataan Pak Johan.
            Ketika aku melihat Dhika di marahi oleh Pak Johan, aku  teringat masa lalu saat kita semuanya masih kelas 1 SD. Dahulu dia juga pernah terjatuh di kelas dan di marahi oleh Bu Ulin guru kelasku dulu. Saat itu aku dan Dhika bermain peran tentang sinetron GGS. Kalian tahu kan film tersebut???
            Saat kami berlari di depan kelas, tiba-tiba . . .
            Ggguubrraaakk !!
            Kulihat Dhika tersungkur di depan kelas. Seketika itu teman-teman sekelas langsung menertawakannya, begitu pula denganku. Aku tak kuasa menahan tawaku melihatnya dan ekspresi Dhika saat itu hanya mengusap kepala belakangnya sambil ikutan tertawa.
            Tetapi ada hal yang lebih menarik bagiku. Kala itu kami sekelas merayakan ulang tahun temanku yang bernama Rafie Izzano. Entah sebab apa si Dhika marah-marah di kelas sambil menjatuhkan makanan ulang tahunnya. Guru kelas kami Bu Ulin langsung  memarahinya dan kulihat Dhika langsung menangis di depan papan tulis kelas. Lantas kami sekelas tertawa karena tingkah laku Dhika tersebut.
            “Baik anak-anak sekarang menghadap ke depan papan tulis semua.” Kata Pak Johan membuyarkan lamunanku.
            Kulihat sekeliling kelas, anak-anak mulai fokus mendengarkan Pak Johan berbicara. Tidak ada suara gaduh lagi terdengar dan aku pandangi Dhika juga sudah mulai diam sambil bermain dengan pensilnya mendengarkan Pak Johan menjelaskan materinya.
            Begitu banyak cerita yang menarik di dalam kelas. Baik itu karena tingkah lucu si Dhika atau teman-teman yang lainnya. Tapi yang aku ketahui senakal-nakalnya kami di kelas, guruku tetap menyayangi dan akan tetap membimbing kami semua.
         



Masa Kecilku
(by  Vardhan)

            Hari itu adalah hari selasa. Guruku yang bernama Pak Johan memberikan tugas kepada kami semua, yaitu membuat cerita yang menarik. Seperti biasa jika diberikan tugas, kami semua pasti menghela nafas yang panjang seakan-akan dunia mau runtuh saja.
            “Anak-anak.. Pak Johan ada tugas untuk kalian.” Kata Pak Johan
            “Yaahhhh malas Pak ini kan bulan puasa.” Sahut teman sekelas.
            “Tenang tugas ini tidak wajib kok.” Kata Pak Johan sambil berjalan dan menambahkan, “bagi yang mau saja membuat cerita yang menarik akan dijadikan Novel dan dijilid menjadi sebuah karya kelas 4 D.”
            “Masuk nilai Pak?” tanya Tiara
            “Tugas ini tidak masuk nilai.” Timpal Pak Johan
                        Kulihat sebagian teman sangat antusias dengan tugas ini dan ada sebagian yang merasa senang karena tugas ini tidak wajib jadi tidak perlu susah-susah membuatnya. Saat itu aku membayangkan sambil berkata, “aku mau membuat cerita yang mana ya? Banyak sekali cerita yang menarik dalam hidupku.”
            Sepulang Sekolah aku menceritakannya ke ibu ku mengenai tugas ini. Ku bercerita panjang lebar ke ibu berharap dapat membantuku mengingat pengalaman yang menarik selama kecilku.
            “Mah.. waktu kecil dulu ada ga hal yang menarik aku alami? Tanyaku
            “Hmm.. Vardhan waktu kecil dulu sangat nakal.”Jawab Ibu
            “Masa aku membuat judul, ‘Vardhan kecil yang nakal mah.’?” Timpalku dengan wajah yang melas.
            Sifat ibu memang seperti itu. Suka membuatku kesal. Saat itu aku dan Ibu sama-sama saling berpikir. Setelah berpikir yang sangat lama, akhirnya aku di ceritakan oleh ibu tentang masa kecilku saat mendapatkan hadiah sepeda dari susu yang biasa aku minum.
            “Mamah ingat nih waktu kecilmu dulu saat mendapatkan hadiah sepeda,” sahut Ibu dengan ceria
            “Tentang apa Mah?” Tanyaku sambil nyinyir dan berkata ‘jangan bilang tentang Vardhan yang nakal lagi.’
            Kulihat saat itu Ibu hanya tertawa. Kemudian ibu mulai menceritakan pengalamanku yang paling berkesan. Hampir 1 jam Ibu bercerita dan aku mengingatnya sambil bertanya-tanya.
            Setelah Ibu bercerita dan aku mengingatnya, lantas aku mulai mengerjakan tugas dari Pak Johan. Pada awalnya aku kebingungan untuk membuat kalimat utamanya, maklum ini adalah hal pertama kali aku lakukan karena harus membuat cerita pengalaman yang menarik. Saat aku berpikir, tiba-tiba ayah dan ibuku menghampiriku.
            “Kamu mengerjakan tugas apa nak?” Tanya Ayah
            “Ini loh Pah membuat cerita menarik disuruh gurunya.” Jawab Ibu
            “Hmm ga bilang-bilang ke Papah.” Kata Ayah
            “Memangnya kenapa Pah? Tanyaku keheranan sambil berkata, ‘Papah bisa membuat cerita?
            “Jelas tidak bisa.” Kata Ayah pelan tapi pasti
            Saat itu aku dan Ibu hanya bisa menghela nafas panjang-panjang.
            “HHHHMMMMMMM”
            “Sini Mamah bantu ya nak.”Kata Ibu
            “Mamah bisa bantu?” Tanyaku penuh pengharapan
            “Bisa lah, apa sih yang ga bisa Mamah lakukan untuk Vardhan kecilku ini.” Jawab Ibu sambil tersenyum
            “Yyeee.” Kataku kegirangan
            “Yasuda sini Papah bantu juga ya.” Sahut Ayah penuh semangat
            Kupandangi wajah Ayah dan Ibu saat itu. Mereka berdua penuh semangat membantuku untuk menyelesaikan tugas dari Pak Johan. Kami bertiga bekerja sama untuk membuat cerita tersebut. Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya sebuah karya ceritaku telah selesai.
            Kini aku bisa menceritakan pengalaman pada masa kecilku ke teman-teman melalui bacaan yang ada di kumpulan cerita kelas 4 D ini. Semoga teman-teman semua menyukainya. Baiklah, aku akan mulai menceritakannya dari awal dan aku memberi judul Masa Kecilku.
Masa kecilku
            Aku dulu mendapatkan hadiah sepeda dari susu kaleng yang biasa aku minum. Kata Ayah dan Ibu aku sangat kegirangan atas hadiah sepeda tersebut. Aku senang memulai belajar untuk bersepeda. Saat itu sepedaku masih roda 4, lalu aku bermain sepeda di dekat rumah. Suatu ketika ada temanku yang sedang belajar bersepeda juga, tetapi temanku belajarnya dengan memakai roda 2 saja. Kulihat temanku sangat asik bisa belajar dengan menggunakan roda 2 saja, lalu ku ceritakan ke ibu untuk membantuku belajar menggunakan roda 2.
            Latihan demi latihan selalu aku coba. Meski gagal dan sering terjatuh aku tetap selalu berusaha dan berusaha. Tidak ada henti-hentinya Ibu membantuku berlatih. Pada waktu belajar bersepeda aku berusaha tanpa bantuan ibuku kembali. Dengan modal nekat dan keberanianku, ku kayuh sepedaku dengan cepat. Ketika di persimpangan dan ingin belok rasa-rasanya aku ingin terjatuh tetapi saat itu aku mencoba tenang dengan mengendalikan stirku. Tapi sayang laju sepedaku semakin cepat, dan aku tidak ingat cara mengeremnya. Saat itu juga aku menabrak pagar rumah tetanggaku.
            BRAAAKKK.....
            Terdengar suara yang sangat keras sekali. Aku langsung cepat-cepat pergi meninggalkan sepedaku karena takut jika tetangga keluar rumah. Saat itu kata Ibu aku hanya tertawa sambil memegangi kaki ku yang lecet karena terjatuh tadi. Rasa semangat selalu menghampiriku, kejadian itu lantas tidak membuatku jera begitu saja. Dari hari ke hari aku mengalami perkembangan. Kata Ayah pun demikian tak henti-hentinya aku bermain sepeda hingga pada akhirnya aku terbiasa dan mengendalikan sepeda roda 2 ini.
            Aku bermain sepeda dengan rasa gembira. Berkali-kali aku memutar balik keliling daerah rumahku. Ketika rasa lelah mulai menyelimutiku, kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Setelah agak lama aku mulai mengayuh sepedaku dan tak terasa waktu pun semakin sore.
            Kini sepedaku yang dulu sudah tidak terpakai lagi. Lalu ayah membelikan sepeda baru untukku, kulihat sepeda tersebut bewarna biru. Aku sangat senang dibelikan sepeda baru, karena aku dapat bersepeda di Taman dekat rumah kala itu.
            Itulah sedikit banyaknya cerita yang menarik dariku. Semoga teman-teman senang dengan ceritaku tersebut. Pasti diantara kalian mengalami hal yang sama sepertiku. Dimana saat terjatuh menabrak pagar tetangga langsung cepat-cepat pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun merasakan rasa sakit yang kita alami. Karena saat itu yang ada di pikiran kita adalah rasa takut di marahi oleh tetangga.
            Iiiiiiyaaa Kaannn............ ?????????????

Guruku Bukanlah Guruku Lagi
(by  Ezzy)

Cuaca hari itu sangat cerah, kudengar kicauan burung mengawali hari yang indah.  SD MUMTAZ  itu lah sebutannya, Sekolah ini terletak di Taman Sepanjang Sidoarjo. Ku lihat begitu ramai, banyak anak seusiaku lalu lalang menyibukkan dirinya dengan bermain sedangkan orang tua mereka menunggu didepan gerbang sekolah. Sejak aku mendaftar sekolah di SD Muhammadiyah 1-2 sepanjang tersebut , aku menempati kelas 1D dan itupun pilihan Ibu.
Bel berbunyi..... “Kringggg...” tanda proses pembelajaran dimulai. Semua murid bergegas menuju kelas masing-masing. Kala itu aku masih takut dan terdiam. Waktu aku berada di dekat Pos Satpam, aku sangat terkejut. Betapa tidak, karena aku mendapati teman TK yang bersekolah di SD MUMTAZ juga. Lalu aku diajak dia untuk masuk kelas. Setelah kami masuk kelas, kami berdua bercerita tentang liburan sekolah.
Tiba-tiba ada anak lain yang sedang mendengarkan pembicaraan kami, akhirnya aku pun bertemu dengan teman yang baru. Tidak lama akhirnya kami mengenal satu sama lain. Perjalananku selama di kelas 1 cukup menghibur. Di usia kami yang ada di dalam pikiran hanya bermain dan
bermain.
Setelah aku berkenalan dengan mereka semua, berikut susunan kelas ku dari absen 1-26.
No.

Nama
No.
Nama
1.     
Chaca
14.
Vardhan
2.     
Ade
15.
Irul
3.     
Aldo
16.
Keyla
4.     
Ais
17.
Apip
5.     
Nesa
18.
Fauz
6.     
Daffa
19.
Rafie
7.     
Dea
20.
Zira
8.     
Dika
21.
Reva
9.     
Ezzy
22.
Shelie
10. 
Nora
23.
Thamimah
11. 
Faiz
24.
Tiara
12. 
Fawwaz
25.
Zakiya
13. 
Icha
26.
Zonkkkkk :v
            Terdapat hal menarik lainnya yang aku lihat atau aku lakukan bersama teman-teman.  Salah satunya suka membuat guru marah-marah.
Hahahahaha...
            Mulai kelas 2 aku dan teman-teman semakin menjadi. Rasa  senang dan sedih aku jalani bersama teman-teman. Kini guruku bukanlah guru kelas kami lagi. Guruku diganti dan saat itu bernama kak Yanti dan Bu Nadya.
            Teman-temanku mengerjai guru kami yang baru. Saat itu kami berpura pura diam dan semisal kalau ada guru yang masuk kelas, kami semua harus diam karena menurut kami hal tersebut sangatlah menyenangkan. Kids zaman now kami mengikuti Challenge yang ada di youtube yang biasa disebut mannequin challenge. Hal hal yg menyenangkan masih baanyakkkkk lagi di kelas kami. Tentunya setiap guru yang mengajar kami harus siapkan mentalnya. 😉
            Kini aku sudah kelas  4. Tentunya setiap naik kelas, guruku yang biasa mengajar sekarang bukanlah guruku lagi. Nama guruku yang sekarang adalah Pak Johan. Kami sering sekali membuatnya marah. Tetapi guruku tersebut selalu sabar dengan kami semua dan selalu memberikan nasihat-nasihat yang menyentuh perasaan kami satu kelas.
            Semua anak-anak kini harus serius dan tidak boleh main-main lagi. Kami semua seakan tersadar atas perbuatan kami selama ini. Rasa sesal yang ada pada diri kami semua setelah Pak Johan memperlihatkan video yang menyentuh hati. Hal yang menarik adalah saat acara ulang tahun Pak Johan, aku memberikan Silverqueen pada guruku tersebut.
            Adapula cerita yang menarik lainnya dan tentunya sangat lucu yaitu ada orang gila di sekolah saat aku sedang mengaji. Hampir semua anak tertawa karena melihat reaksi orang gila tersebut.
Apakah kalian juga pernah melihat orang gila yang lucu?
Wkwkwk.......
            Terdapat hal yang lucu lagi di kelas 4 ini, yaitu saat aku mengaji di kelas masing-masing. Nora menangis tanpa sebab dan semua anak menjadi panik seketika. Semua bertanya.. “kenapa Nora?”
            Ternyata pada waktu itu Nora hanya iseng mengerjai teman-temannya. Aku sempat khawatir karena Nora menangis tapi untungnya dia hanya bercanda saja. Kulihat raut muka teman-teman ada yang tertawa bahkan kesal terhadap Nora.
            Itulah pengalamanku yang menarik. Entah kalau bukan karena Pak Johan aku tidak akan menceritakan pengalamanku ini. Tetapi pada akhirnya kami semua bersedih, karena guruku bukanlah guruku lagi, tetapi akan selalu menjadi panutan bagi kami semua. Love you my teacher and my sweet class.


Fenomena Keseharianku
(by  Ade)

            Setiap pagi aku selalu bangun aktif pukul 04:30, setelah itu yang kulakukan adalah mandi dan sholat subuh. setelahnya aku bergegas membantu Ayah dan Ibu yang tak hentinya bekerja membanting tulang untukku. Senyum ceria yang aku rasakan kini sangatlah lebih, itu dikarenakan aku sekarang memiliki adik bayi.
            Sebelum kami berangkat ke Pasar, aku menyempatkan waktuku untuk bermain dengan adikku yang sangat lucu. Kelak aku berharap bisa mengantarkan adikku untuk berangkat ke Sekolah. Ketika aku bermain dengan adik lalu ayah berkata, “Ade, ayo nak kita berangkat.” Sambil tersenyum kepadaku.
            Aku selalu bangga terhadap Ayah dan Ibuku yang selalu sabar menghadapiku, beliau berdua selalu menginginkan yang terbaik untukku dan aku akan selalu berusaha membuat kedua orang tuaku bangga. Seperti biasa ketika kami semua berangkat adikku dititipkan kepada bibi yang kebetulan tinggal serumah dengan kami.
            “Bibi tolong jagain adikku yang lucu ya.” Kataku
            “Siap Komandan.” Ucap Bibiku.
            Bibiku mengetahui kalau aku ingin sekali menjadi tentara. Mungkin itu adalah cita-citaku saat ini, tetapi guruku Pak Johan selalu menyemangatiku untuk berkarir seperti Ayah dan Ibuku. Tetapi Pak Johan juga menambahkan apapun pekerjaanku nanti, aku harus tetap bersyukur dan tetap semangat dalam menjalani keseharian dijalan Allah.
            Setibanya di Pasar, aku membantu Ibuku untuk merapikan tempat dagangan setelah itu aku belajar untuk pelajaran hari ini. Aku tidak pernah bosan untuk membantu Ibu karena yang aku ketahui surga terletak di bawah telapak kaki ibu. Aku bahagia jika bisa membuat Ibuku bahagia dan Ibu juga tidak ada henti-hentinya untuk menyemangatiku di dalam hal belajar.
            Setelah bersekolah usai, aku dijemput Ayah untuk pulang ke rumah. Ku istirahatkan badanku sejenak di kasur sambil bermain dengan adik dan beberapa jam kemudian ku lanjutkan untuk mengikuti les privat jarimatika. Hari demi hari ku lalui dengan fenomena keseharian yang sama. Sebetulnya aku sedikit lelah tapi semoga lelahku menjadi berkah untukku. Aamiin.
            Pada waktu di Sekolah, ayah melihat prestasiku sedikit menurun dan aku sangat sedih melihatnya. Ketika naik di kelas 4 ini, kulihat semua pembelajarannya sangatlah sulit semua. Tugas demi tugas menyerangku setiap harinya. Bahkan Ibuku juga sering menasehatiku untuk tetap semangat belajar meski sedikit cerewet tapi yang aku ketahui itulah nasihat yang benar oleh seorang Ibu yang tidak ingin anaknya kesulitan didalam pembelajaran.
            Entah ada angin apa, tiba-tiba ayahku ingin berbicara kepada Pak Johan. Kulihat dari raut wajah Ayah terlihat serius berbicara kepada guruku tersebut. Seusai berbicara kami pun langsung pulang ke rumah. Sebetulnya aku kepikiran dengan apa yang sedang dibicarakan mereka berdua saat itu. Lalu aku beranikan bertanya ke Ayah.
            “Yah tadi bicara tentang apa kok serius amat?”
            “Nanti Ade les privat juga ya di rumah Pak Johan.” Jawab Ayah.
            Sedikit kaget sebetulnya aku waktu itu. Karena tiba-tiba Ayah memintaku untuk les lagi selain di tempat les sebelumnya. Aku berkata kepada Ayah, ‘terus les ku sebelumnya bagaimana?’
            “Kamu tetap les di jarimatika, untuk pengetahuan umum lainnya nanti bersama Pak Johan.” Jawab Ayahku dengan semangat.
            Kulihat wajah penuh harapan yang ditunjukkan oleh Ayahku. Memang benar pengorbanan seorang Ayah dan Ibu tidak akan ada henti-hentinya untuk anaknya semua, sama halnya dengan video yang pernah ditunjukkan oleh guruku dahulu tentang pengorbanan orang tua. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan permintaan Ayahku tanpa harus mengeluh. Karena semua itu demi kebaikanku untuk mengejar pembelajaran didalam kelas.
            Suatu hari didalam kelas, Pak Johan tiba-tiba mengahampiriku dan berkata, ‘Ade nanti jangan lupa les ya.” Kemudian teman-temanku yang lain terkaget-kaget dengan pembicaraan tersebut.
            “Loh De kamu les di Pak Johan?” Tanya Fauz dan Rafie
            Saat itu aku hanya manggut-manggut saja, kulihat sebagian dari teman-teman juga ingin les di Pak Johan seperti Aldo, Afif, dan Ezzy. Tapi sayang mereka terbentur dengan rumah yang jauh dan kebetulan Pak Johan tidak bisa jika harus les privat datang ke rumah teman masing-masing.
            “Kriinggg..” suara bel istirahat berbunyi
            Pada waktu istirahat, aku mengajak Daffa dan Aldo untuk istirahat dan segera pergi ke kantin Sekolah. Kami bertiga bercanda bersama saat di kantin. Senang rasanya bisa bersama-sama dengan mereka. Karena temanku tersebut yang selalu bercanda denganku. Saat di kantin, kulihat ada Irul yang sedang menyerobot untuk membeli jajan. Aku tertawa melihatnya karena itu memang kebiasaan Irul. Lalu kami berempat langsung duduk di kursi kantin sambil memakan snack yang sudah dibeli.
            Hari demi hari telah kulalui bersama guru dan teman-temanku sekelas, tanpa terasa pelajaran yang dulunya tidak dapat aku kuasai kini akhirnya sedikit demi sedikit dapat aku kuasai. Aku berterima kasih kepada kedua orang tuaku yang selalu mensupport dan aku juga berterima kasih kepada Pak Johan yang tidak henti-hentinya mengarahkanku didalam pembelajaran.
            Ada hal menarik pada waktu aku les di rumah Pak Johan, saat itu kami berdua melihat film animasi tentang Larva. Aku senang karena saat itu tidak belajar terus. Kata Pak Johan, ‘Ade kamu terlihat lemas sekarang?’
            Lalu aku menjawab, ‘iya Pak capek pulang futsal tadi di Sekolah.’
            “Oh begitu, yasuda sekarang kita bercerita sambil nonton film Larva ya?” tanya Pak Johan
            “Iya Pak.” sahutku dengan cepat
            Setelah kami menonton film, Pak Johan pun bertanya, ‘Ade dulu kamu pernah mengalami hal yang menarik?’
            “Baaanyaaakkk Pak.” jawabku
            Aku bercerita tentang banyak hal kepada Pak Johan, mulai dari kejadian terjatuh dari motor saat bersama Ayah, kehujanan saat berangkat les hingga basah kuyup, cidera saat bermain bola bersama teman di rumah, hingga antri ta’jil yang lama tetapi akhirnya tidak kebagian sama sekali.
            Pada akhirnya kini aku beranjak menuju ke kelas 5. Tentunya pembelajaran yang sulit akan menungguku didepan sana. Tetapi aku harus memegang prinsip, ‘aku harus percaya pada diriku sendiri, percaya bahwa aku adalah orang yang dapat dipercayai oleh kedua orang tuaku dan aku tidak akan menarik kata-kataku. Karena itulah aku harus bersabar dengan jalanku saat ini.






Kutitipkan Sebuah Impian
            Pada saat itu suasana kelas sangat hening, karena di kelas hanya ada aku dan bangku-bangku kosong. Aku tersenyum sendiri dengan keadaan kelas ini. Kadang aku berpikir apa jadinya jika di dalam kelas sesunyi ini tanpa ada anak yang bermain sendiri, tanpa ada guru yang memarahi muridnya, atau tanpa ada murid yang menegur guru nya karena salah.
            Tidak di pungkiri kehadiran anak kelas 4 D ini menjadikanku lebih tegar lagi. Aku telah belajar banyak hal oleh mereka. Meski tidak henti-hentinya mereka membuatku kesal tapi nyatanya aku selalu bahagia ketika melihat mereka tertawa ria.
            Aku pernah membaca kutipan yang di berikan oleh Pak Dedi. Bahwa, “jangan pernah memarahi anak kecil yang sedang bermain-main di area masjid. Ingatlah ini adalah rumah Allah. Janganlah kalian jadikan sebuah masalah sedangkan hal yang lebih bermasalah ketika masjid sudah tidak diisi oleh anak kecil lagi.”
            Kutipan tersebut sangat bermanfaat bagiku, karena benar bagaimana jika tidak ada anak yang ramai lagi di kelasku pasti kelas ini kurang menyenangkan. Kadang aku berpikir bisa jadi anak-anak tidak ramai dikarenakan guru kelasnya yang galak dan super cerewet. Aku tersenyum sendiri membayangkan ucapan Dea kala itu.
Kata Dea, “Guruku galak.”
            “Siapa yang galak Dea?” Tanyaku
Kemudian Dea menjawab, “Pak Johan galak.”
            “Kenapa?” Tanyaku lagi makin penasaran
            “Pokoknya galak.” Lanjut Dea.
Lantas sambil tertawa aku berkata, “maaf ya Dea cantik.”
            Saat ini adalah Bulan puasa. Kali ini banyak yang berubah dari bulan puasa sebelumnya. Bagaimana tidak, dahulu ketika ingin sahur aku selalu di bangunkan oleh beliau ayahku. Di setiap itu pasti aku membuat jengkel ayah karena susah untuk di bangunkan.
Aku selalu bilang kepada beliau, “nanti dulu yah masih jam berapa ini.”
            “Kamu ini,cepat cuci muka.” Sambung ayah.
            Kini suara yang biasa aku dengarkan tidak terdengar lagi. Kala itu aku hanya termenung didalam kelas sendirian tanpa ada seorang pun yang ada. Kulihat dari jendela kelas awan terlihat sangat terik sekali. Lalu tanpa pikir panjang aku kembali ke tempat dudukku.
            Pandanganku teralihkan ke papan mading kelas. Kemudian aku berdiri menuju mading tersebut. Teringat sosok Zakiya, Reva, Dea, Thamimah, Faiz, Nesa, Chaca dan lainnya yang menghias mading tersebut. Aku tersenyum mengingat hal itu.
            Kini mading tersebut diisi oleh beberapa bingkai jam disiplin yang menunjukkan jadwal tiba anak-anak ketika masuk kelas. Kala itu aku menghela nafas panjang melihat kursi dan meja anak-anak yang belum tertata rapi. Bergegaslah aku untuk merapikannya semua.
            Setelah semua selesai, aku segera beristirahat sebentar di kursiku kembali. Kulihat di bawah meja ku terdapat sebuah bola plastik yang dimiliki oleh Dika. Teringat saat ku tanyai satu persatu anak-anak tentang impian mereka.
            “Dika cita-cita kamu ingin menjadi apa?”
Kemudian Dika menjawab, “aku ingin menjadi pemain sepak bola terkenal pak.”
            “Kalau Fauz ingin menjadi apa?”
Fauz menjawab, “kalau aku ingin menjadi astronot pak.”
            “Kalau Shelie, Pak Johan pasti tahu.” Kataku
Dengan nada sewot Shelie bertanya, “Apa sih Pak Johan?”
            “Pasti Shelie nanti membuka Resto & Coffe dan menyuguhkan ke Pak Johan.”
            Lantas Shelie langsung menaikkan bahu dan seluruh kelas langsung tertawa bersama.
            “Siapa yang ingin menjadi guru?” Tanyaku lagi
Lalu si Icha menjawab, “saya Pak mau menjadi guru seperti ibuku.”
            “Kalau Reva ingin menjadi apa?”
Dengan malu-malu dia menjawab, “mau menjadi penyanyi Pak.”
Kataku, “kalau Pak Johan membahas tentang seniman, di Kelas kita ini ada Nora.” Melanjutkan, “Nora besar nanti ingin menjadi apa?”
            “Malu pak untuk menjawab.” Jawab Nora
Dalam hati aku berkata, “yang aku tahu pasti bakat terpendam yang dimiliki Nora adalah dalam hal bakat seni melukis.”
            Sama halnya dengan Nora, ada nama Daffa dan Afrin yang memiliki suara yang sangat merdu. Aku mengagumi mereka semuanya.
            “Bagaimana dengan Ade?” Tanyaku kembali
Dengan nada lirih Ade berkata “masih belum tahu Pak.”
            “Bagaimana kalau kamu menjadi pembisnis Ade seperti ayahmu?” tanyaku sambil memotivasinya
            Lantas pandanganku beralih ke Afif, kemudian aku menanyainya, “kalau Afif besar nanti ingin menjadi apa?”
            “Sama dengan Ade pak, saya bingung.”
            “Bagaimana kalau besar nanti kamu menjadi pengusaha atau Ustadz.” Jawabku dengan tegas
Kemudian serentak teman-teman  lainnya mengucapkan, “Aamiin.”
            “Kalau kamu Ezzy dan Fawaz mau jadi apa?”
            “Mau jadi orang Pak, sahut mereka berdua,”
            “Nazira nanti besar ingin menjadi apa? Tanyaku
            “Masih belum tahu juga Pak.” Jawab Nazira sambil tersenyum.
Sama halnya dengan Keyla saat aku tanyai, “Keyla nanti besarnya ingin menjadi apa?”
            “Tidak tahu Pak.” Sambil tertawa juga
            Begitu banyak impian-impian yang mereka miliki meski adapula yang masih ragu untuk memberitahukan hal tersebut keoadaku. Tugasku adalah untuk memberikan motivasi kepada mereka, bukan karena sebab lain itu semua aku lakukan karena mereka adalah keluargaku dan keluarga akan selalu bersama dalam berbagai masalah apapun.
            Teruntuk mereka kutitipkan sebuah impian yang besar. Teruntuk mereka kutitipkan harapan yang besar, dan teruntuk mereka, ingatlah! Tempat dimana seseorang memikirkanmu, di situlah rumahmu.
            Pesanku, “Yang paling penting untuk menjadi murid adalah keberanian untuk tidak pernah menyerah dan kegagalan itu menyenangkan, karena kalian hanya perlu bersabar untuk mencobanya lagi,lagi, dan lagi.
            Kelak saat kalian sudah tumbuh dewasa dan aku menjadi semakin tua. Ingatlah ku nanti kalian untuk berkumpul bersamaku kembali dan menceritakan perjalanan kalian selama ini. Ingatlah tempat dimana seseorang memikirkanmu, di situlah rumahmu.
            Tanpa sadar aku berada di kelas ini sudah hampir 2 jam lamanya. Ku letakkan kembali bola plastik tersebut ke tempatnya. Kini aku ingin segera kembali ke rumah. Menceritakan kepada istriku tentang pengalamanku mengajar di kelas ini. Aku ingin bercerita banyak tentang murid-murid ku ini.
            Meski terkadang mereka semua menjengkelkan tetap mereka adalah murid-murid kesayanganku dan yang pastinya mereka tetap akan menjadi semut merah bagiku. Setibanya di Rumah aku bercerita panjang lebar kepada istri tentang kekagumanku terhadap murid-murid di kelas.
            Meski bulan puasa kali ini tanpa adanya seorang ayah, setidaknya sekarang aku ditemani oleh istri yang selalu menungguku di Rumah untuk bercerita setiap kejadian di Sekolah. Kala itu aku mengusap perut istriku berharap kelak anak yang berada dalam perutnya bisa menjadi anak yang sholeh maupun sholehah.
            Kini, pada akhirnya mereka semua akan segera naik di kelas 5. Baik senang maupun duka telah ku lalui bersama kelas 4 D. Aku akan mengingat pengalamanku bersama mereka semua. Aku pikir aku tidak perlu terhanyut dalam kesedihan. Tugasku adalah menjadi panutan bagi generasi selanjutnya dan untuk membantu mereka.

0 Response to "Cerpen "The Miracle 4 D Class""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

-->